Jaga Sula – Melestarikan Budaya dan Kamtibmas, Kapolres Sula Beri Materi pada Peserta Gabalil Hai Sua

HUMAS POLRES SULA – Dalam rangka melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan dan ketertiban, Kapolres Kepulauan Sula AKBP Kodrat Muh. Hartanto, S.I.K memberikan materi kepada para peserta Lomba Gabalil Hai Sua Tahun 2026, bertempat di Pos Jaga Sula, Desa Fat Iba, Kecamatan Sulabesi Tengah, Selasa (05/05/26) malam.

Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Desa Fat Iba ini dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat, di antaranya Camat Sulabesi Tengah Muslim Usia, Ketua STAI Babussalam sekaligus Tim Perumus Jaga Sula Dr. Sahrul Takim, S.Pd.I., M.Pd.I, Ketua Panitia H. Faruk Bahnan, serta jajaran pejabat utama Polres Kepulauan Sula dan Polsek Sanana.

Dalam sambutannya, Kapolres Kepulauan Sula menegaskan bahwa kegiatan Gabalil Hai Sua merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Sula yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Hari ini adalah momen istimewa bagi kita semua. Kita tidak hanya menyambut Hari Jadi Kota Sanana dan HUT Kabupaten Kepulauan Sula ke-23, tetapi juga merawat tradisi leluhur melalui kegiatan Gabalil Hai Sua dengan tema ritual budaya dan kearifan lokal,” ujar Kapolres.

Kapolres juga memperkenalkan dan menguatkan program unggulan “Jaga Sula” yang memiliki filosofi utama yakni jaga diri, jaga keluarga, dan jaga lingkungan. Program ini bertujuan menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah Kepulauan Sula.

Lebih lanjut, Kapolres menyoroti tingginya peredaran minuman keras (miras) di wilayah Kepulauan Sula yang kerap menjadi pemicu berbagai tindak kriminal seperti perkelahian, pengeroyokan, hingga kasus asusila.

“Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama menjaga Sula dengan menjaga diri, keluarga, dan lingkungan,” tegasnya.

Sementara itu, Tim Perumus Jaga Sula, Dr. Sahrul Takim, menjelaskan bahwa konsep Jaga Sula memiliki tiga pilar utama, yaitu pengendalian diri, keharmonisan keluarga, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Jaga Sula bukan hanya program kepolisian, tetapi merupakan nilai luhur yang telah diwariskan oleh para tokoh adat dan tokoh agama kepada masyarakat Sula,” ungkapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan secara simbolis oleh Kapolres kepada peserta, serta doa bersama. Hingga saat ini, sebanyak 28 tim masih melanjutkan perlombaan dari total 30 tim yang terdaftar.

Adapun rute lomba dimulai dari Pos Jaga Sula Desa Fat Iba menuju Kota Sanana dan berakhir di depan Istana Daerah (Isda) Desa Fagudu, Kecamatan Sanana.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tradisi Gabalil Hai Sua dapat terus hidup dan berkembang, serta menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *